Showing posts with label upacara. Show all posts
Showing posts with label upacara. Show all posts

Sunday, January 22, 2012

Siwa Ratri dan Pengendalian Nafsu

  1. Pengertian.
    Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga.

    Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
  2. Waktu Pelaksanaan.
    Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
  3. Brata Siwarâtri.
    Brata Siwarâtri terdiri dari:
    1. Utama, melaksanakan:
      1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
      2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
      3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
    2. Madhya, melaksanakan:
      1. Upawasa.
      2. Jagra.
    3. Nista, hanya melaksanakan:
      Jagra.

  4. Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
    1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
    2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
      1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
      2. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
      3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
      4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
        - Sang Hyang Siwa.
        - Dewa Samodaya.
        Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya. Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia.
      5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
        Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
        Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
        Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
      6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.

      sumber: Babad Bali © Yayasan Bali Galang.

Tuesday, August 9, 2011

Buda Keliwon Pegatuwakan



Pegat-uwakan artinya pegat warah atau diam, tidak berbicara. Pada hari yang suci ini para Sang Maha Muni, para pakar dan orang-orang budiman melakukan tapa diam (monabrata) atau brata dhyana, atau semadhi pralina. Tujuannya ialah menyatukan tenaga hidup (prana) di badan kita, yang menyebabkan segar bugar dan sehatnya jiwa raga. Di samping itu dihaturkan widhi-widhana, bebanten sarwa pawitra, canang wangi-wangi, sesayut dirgha yusa, panyeneng, tetebus, dihaturkan kehadapan Dewa Bhatara, terutama Sanghyang Widhi Wasa dengan perantaraan asap dupa harum serta dengan menyan astanggi.
Pengastawa dilaksanakan dengan pikiran dan budhi cita yang suci nirmala memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa / Bhatara memberikan rakhmat kedirghayusaaning jagat raya dan memujikan atas welas asih serta kemurahan-Nya melimpahkan karunia di mayapada ini demi kesempurnaan dunia sampai dengan seluruh sarwa prani.
dikutip dari: babad bali


Buda Keliwon Pegatuwakan. Hari ini menghaturkan sesaji kehadapan Shang Hyang Widi, sebagai tanda puji syukur atas kemurahan beliau melimpahkan rahmatNya sehingga hari raya Galungan dan Kuningan berjalan dengan selamat.
Buda kliwon pahang juga disebut dengan Buda Kliwon Pegat Uwakan yang menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan yang ditandai dengan mencabut penjor di muka rumah.


''Buda Kliwon Pegat Uwakan'' Berakhirnya Rangkaian Galungan
SELURUH rangkaian kegiatan hari raya Galungan berakhir pada Buda Kliwon Wuku Pahang atau yang lebih dikenal Buda Kliwon Pegat Uwakan, Rabu (12/1) kemarin. Apa makna Buda Kliwon Pahang?

Dosen IHDN Denpasar Drs. Made Surada, M.A., Rabu kemarin mengatakan Buda Kliwon Pegat Uwakan, pegat berarti putus dan uwakan (uwak) berarti kembali -- merupakan hari berakhirnya rangkaian Galungan. Rangkaian Galungan itu dimulai dari Tumpek Wariga sampai Buda Kliwon Pahang (Buda Kliwon Pegat Uwakan). Selama rangkaian Galungan itu, di masyarakat dikenal ada istilah Uncal Balung. Selama Uncal Balung itu masyarakat umumnya pantang melakukan kegiatan Panca Yadnya. Kecuali, pujawali atau piodalan di pura ataupun di sanggah/merajan yang kebetulan saat itu jatuh tegak piodalan-nya. Tetapi, di beberapa daerah tertentu tidak dikenal istilah tersebut.

Lanjut Surada yang mantan Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN ini, setelah Buda Kliwon Pegat Uwakan, umat umumnya kembali memilih dewasa ayu untuk melaksanakan upacara Panca Yadnya. Hal yang sama dikatakan Ketua Yayasan Giri Kusuma Sejati A.A. Gde Rai Tjandra, S.E. bahwa setelah Buda Kliwon Pegat Uwakan, umat umumnya baru kembali menyelenggarakan upacara Panca Yadnya.

Made Surada menambahkan, sebagai akhir dari rangkaian Galungan, pada Buda Kliwon Pahang, penjor Galungan dicabut. Atribut penjor seperti bakang-bakang, lamak, sampian dan sebagainya dibakar. Abunya dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading kemudian ditanam di belakang pelinggih Rong Telu. Maknanya, umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar diberkati kesuburan. Sebelum mencabut penjor, umat terlebih dahulu ngaturan banten atau canang di sanggah/merajan bahwa rangkaian rerahinan suci Galungan sudah selesai. Dilanjutkan kemudian prosesi masegeh, termasuk masegeh di lokasi penjor. Seusai masegeh, penjor Galungan pun dicabut.

Ketua Parisada Bali Dr. IGN Sudiana, M.Si. menyampaikan hal senada bahwa rangkaian Galungan berakhir pada Buda Kliwon Pahang atau dikenal dengan istilah Buda Kliwon Pegat Uwakan atau ada yang menyebut Buda Kliwon Pegat Warah. Buda Kliwon Pegat Warah merupakan hari berakhirnya Galungan yang dimulai dari Tumpek Wariga. Selama 42 hari berlangsung warah-warah pengetahuan tentang dharma. Selanjutnya, umat tinggal mengimplementasikan atau menerapkan nilai-nilai dharma itu dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan di dunia.

Kata Sudiana yang Dekan Fakultas Dharma Duta IHDN Denpasar, selama rangkaian hari raya Galungan yang berlangsung satu bulan tujuh hari, umat diajarkan untuk mengendalikan diri agar bisa hidup bersama dan bisa melakukan pelayanan, pengabdian dan peningkatan kualitas SDM. Hidup berdampingan dengan sesama secara damai, saling membantu dan saling menghargai merupakan tujuan hidup yang ideal sesuai dengan ajaran agama.

Menumbuhkan kepekaan sosial atau rasa empati juga diamanatkan oleh ajaran agama. Dalam konteks berakhirnya rangkaian Galungan, umat diingatkan untuk selalu bisa menerapkan nilai-nilai dharma. Kemenangan melawan adharma itu mesti terus dapat dipertahankan. Dalam konteks kekinian, kemenangan yang dimaksud bisa berupa kemenangan dalam menghadapi persaingan global. Agar bisa tampil memenangkan persaingan, kualitas SDM Hindu perlu terus ditingkatkan. Dengan kualitas yang andal, diharapkan SDM kita mampu memenangkan persaingan yang demikian ketat di era kesejagatan ini. (lun)
dikutip dari: Bali Post

Saturday, May 7, 2011

Tumpek Landep dan Pengertiannya

Jero mangku sudiada
Tumpek = Asal dari kata Tumampek, mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta dg jalan mensyukuri segala ciptaannya baik secara langsung maupun tidak langsung kita nikmati sehingga sudah sewajarnyalah kita mensyukurinya kepada sang pemberi nikmat.


Syclus kedatangannya

Tiada lain adalah sebagai apa yang digariskan oleh arti Tumpek itu sendiri yaitu:
TU = metu dan Pek = berakhir Jadi Tumpek berarti merupakan Awal dan juga akhir. Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakn gabungan dari Caka surya pramana dan Chandra Pramana serta Wuku yang kita kenal sebanyak tiga puluh wuku, selain wuku ada juga syclus lain yaitu Saptawara dan Pancawara.

Sehingga antara Sapta wara terakhir Saniscara ketemu dengan Pancawara terakhir ( kliwon ) maka syclus inilah kemudian disebut tumpek, yg datangnya setiap 35 hari 1 X.

Tumpek akan bertemu setiap akhir wuku Saniscara (Sapta wara ) dan akhir Pancawara Kliwon, inilah yang kemudian disebut denga awal dan akhir dalam istilah Hindu disebut Utpeti, Stiti dan Prelina, yang kemudian diambilah Utpeti dan Prelina ( Tum-Pek )

Bermacam-macam Tumpek


1. Tumpek Landep.


Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Pasupati atas ciptaanya, sehingga atas analisys dari manusia menggunakan ketajaman Jnananya sehingga berhasilah mengolah logam logam yang dipergunakan untuk melancarkan usahanya dalam menunjang kehidupan sehari-hari, sehingga lazimnya pada tumpek ini sepertinya di katagorykan sebagai sarwa sanjata-senjatanyapun yang dari Logam, pada hal yang utama bagaimana ketajaman dari Jnanam kita yang di anugrahi oleh sang maha pencipta.

2. Tumpek Wariga.

Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Sangkara atas ciptaanya, atas analisys manusia serta usahanya untuk mengolah tumbuh tumbuhan sedemikian rupa, sehingga memberikan makna dan berhasil guna untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

3. Tumpek Kuningan

Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iste dewata atas ciptaanya, sehingga kita sebagai manusia bisa melakukan penghormatan kepada Raje-Dewata dan Dewati atas jasa yang telah diberikan kepada kita, sehingga kita bisa meneruskan cita cita para leluhur semasa hidupnya.

4. Tumpek Klurut.

Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Aji Gurnita atas ciptaanya, sehingga atas analisys & usaha manusia bisa menikmati kesenangannya dalam Keindahan dan seni.

5. Tumpek Uye.

Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Rare angon atas ciptaanya, sehingga atas analisys dan usaha manusia bisa memanfaatkan jasa-jasa dari hewan / binatang baik yang dinikmati langsung maupun yang dikerjakan.

6. Tumpek Wayang

Bersyukur kepada Hyang Maha Pencipta dalam manifestasinya sebagai Hyang Iswara atas ciptaanya, sehingga atas analisys dan usahanya manusia mampu untuk berkreasi dalam mewujudkan Aikyam, Ciwam, Sundaram.

Masing masing tumpek diatas, semuanya mempunyai Mitos yang sangat menarik, Kisah rare angon (Tumpek Uye ), Kisah dari Bhatara Kala ( Tumpek Wayang ) kisah Hyang Kumararatih dsbnya. Tunggu tanggal mainnya akan diceritrakan satu persatu pasti deh kebagian semuanya mari kita sembahyang dulu hari ini dalam rangka bersyukur kepada Hyang PASUPATI. (tumpek landep ) besok besok dilanjutkan Mogi semuanya panjang yusa ayuverdi.

Source :   parisada


idapedandagunung

Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang Berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam. Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai - nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

          Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi. Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya. 
          Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.
          Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan. Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran - ajaran agama. Pada rerainan tumek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan - pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.
          Jadi sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manuasi. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja. Jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambahan namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut

Wednesday, April 27, 2011

Makna Hari Raya Pagarwesi

Kata "pagerwesi" artinya pagar dari besi. Ini me-lambangkan suatu perlindungan yang kuat. Segala sesuatu yang dipagari berarti sesuatu yang bernilai tinggi agar jangan mendapat gangguan atau dirusak. Hari Raya Pagerwesi sering diartikan oleh umat Hindu sebagai hari untuk memagari diri yang dalam bahasa Bali disebut magehang awak. Nama Tuhan yang dipuja pada hari raya ini adalah Sanghyang Pramesti Guru.

Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik pendeta maupun umat walaka. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

"Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwa tumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh."

Artinya:

Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniawan pemimpin agama. Dalam lontar Sundarigama disebutkan:

Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca 0Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah.

Artinya:

Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaan (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Saturday, December 4, 2010

wraspati wage sungsang

Pada hari wraspati wage sungsang merupakan sugimanek jawa. Jatuh pada hari kamis, tanggal 02 desember 2010. Pada hari ini kami keluarga besar melakukan "UPACARA PEMLASPASAN, MENDEM PEDAGINGAN DAN PECARUAN RSI GANA" di merajan  keluarga kami di Banjar adat Kulub, Tampaksiring. Yang dipuput olih Ida Rsi Bujangga saking griya Angkling, Gianyar. Upacara dimulai dari pukul 14:00 sampai selesai.


Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantu dalam pelaksanaan upacara. khususnya sekhe Gong, Baris dan Rejang Banjar Adat Kulub serta para warga Banjar Adat Kulub yang telah membantu kelancaran upacara.  Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan dihati, kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya.